 |
Wednesday, July 05, 2006
Assalamu alaikum teman2!!!
Pernah ga kalian kyk gini? doa mintanya apa yang dikasih malah beda bgt ma yang kita minta? well, kayaknya hampir semua pernah ngalamin kali ya...
Tulisan berikut (masih dr milist tetangga), membahas ttg apa hikmah d balik kejadian d atas,,, yaaah... intinya ga semua yang lo mau itu baik d mata Allah, so Allah memberikan dalam bentuk yang berbeda. Mungkin hal2 kayak gini udah sering banget kalian denger tapi kemasan dalam tulisan kali ini agak sedikit berbeda, so mungkin akan memberi nuansa dan kedalaman makna yang agak beda kali ya... Wallahu a'lam...

Doa dan Bungkusan yang Ruwet
Malam Jum'at di Masjid Rungkut Jaya. Suatu kali.
Beberapa ayat telah dikupas dari berbagai tafsir: Jalalain, Al-Mishbah, Al-Azhar, Adz-Dzikra, Fii Dzilalil Qur'an, dan beberapa tafsir berbahasa Jawa dan Inggris.
"Saya pernah berdoa yang tak biasa, Pak" kata Bu Kus membuka sesi pertanyaan.
"Apa itu, Bu Kus" tanya Pak Suherman Rosyidi, Sang Ustadz.
"Suatu kali saya berdoa: Ya Allah, jadikan saya isteri yang selalu terlihat cantik di mata suami"
"Doa yang bagus, dong" sergah Pak Ustadz, "lalu apa yang terjadi?"
"Ya, memang bagus, Pak Herman. Tetapi, esok harinya wajah saya mulai ditumbuhi jerawat yang saya tidak tahu darimana datangnya. Banyak. Beberapa hari kemudian malah memenuhi seluruh wajah. Saya jadi kebingungan. Akhirnya mau tidak mau saya harus menjalani perawatan kecantikan wajah ke sebuah salon kecantikan, suatu hal yang tidak pernah saya lakukan. Saya harus datang ke tempat itu untuk membersihkan jerawat di muka saya. Berkali-kali. Berhari-hari. Hasilnya tentu saja mengejutkan saya. Wajah saya menjadi lebih bersih dari semula. Lebih cantik."
"Berarti doa ibu dikabulkan sama Allah. Ya nggak?"
"Ya, sih Pak. Tetapi itu belum seberapa, Pak."
"Maksudnya gimana?"
"Saya juga pernah berdoa yang tak biasa, Pak. Doa yang lain"
"Apa itu?"
"Saya berdoa agar Allah menjadikan saya isteri yang setia pada suami."
"Doa yang bagus juga. Lalu apa yang terjadi, Bu?"
"Esok harinya, suami saya jatuh sakit. Tak bisa bangun. Ia harus dirawat di rumah sakit. Berhari-hari. Saya mau tak mau harus menungguinya selama terbaring itu. Saya bahkan sampai merasa itu semua seperti ujian bagi saya. Ujian terhadap kesetiaan saya, apakah saya tetap setia pada suami apa tidak. Saya seketika teringat akan doa yang pernah saya panjatkan sebelumnya."
"Berarti doa ibu dikabulkan sama Allah. Ya nggak?"
"Ya, sih, Pak."
"Lalu sekarang, pertanyaannya Ibu apa?"
"Bukan pertanyaan, Pak"
"Lalu apa?"
"Sekarang ini, saya justru merasa takut untuk berdoa. Gimana ini?"
***
Another story,
Sasa sudah bertekat bulat untuk tidak melanjutkan mondok di tempat ini. Anak sulung Pak Khoirul, teman sekantorku itu, seperti sudah patah arang. Beberapa lama dicoba hingga satu semester berlalu, tetapi rasanya tak juga kerasan tinggal di pondok semodern ini lebih lama lagi. Mana jarak Ngawi dan Surabaya buatnya begitu jauh. Apalagi terpisah dengan orang tua.
Sudah banyak upaya yang dilakukan Pak Khoirul dan isterinya agar Sasa bertahan dan bersabar untuk tetap melanjutkan pendidikan di pondok itu. Semua jalan dan cara sepertinya sudah ditempuh. Mengunjungi Sasa setiap pekan atau liburan.
Menyediakan untuknya segala yang diperlukan. Memberikan kesempatan padanya untuk menelepon ke rumah, interlokal, kapan saja ia perlu. Meminta bantuan ustadzah-ustadzah di sana untuk memberikan arahan dan support pada Sasa. Termasuk pendekatan pada teman-teman Sasa seasrama. Namun semua itu rasanya tak bisa menyurutkan niat Sasa untuk pergi.
Tak henti Pak Khoirul berdoa bagi Sasa, agar anak sulungnya itu tetap mondok di sana, menimba dan memperdalam ilmu agama. Hingga pada suatu saat, beliau merasa mentok, dan akhirnya hanya bisa pasrah.
"Ya Allah, saya tidak punya lagi cara dan upaya agar Sasa tetap mondok di tempat ini. Semuanya saya serahkan dan pasrahkan pada-Mu. Jika keberadaannya di pondok pesantren ini baik baginya, berilah kesempatan padanya untuk tetap berada di sini. Jika memang sebaliknya, kami pasrah jika seandainya ia pulang dan tidak kembali ke tempat ini."
Tak lama kemudian, Sasa justru jatuh sakit di pondok ketika masa liburan baru saja tiba. Ia bahkan harus menjalani rawat inap di klinik pondok tempatnya belajar. Bapak dan ibunya akhirnya datang dari Surabaya dan pontang-panting mengurusi dirinya, menungguinya terbaring di klinik. Berhari-hari.
Namun di sinilah rupanya titik balik itu bermula.
Di klinik tersebut ada beberapa kakak kelas Sasa yang juga terbaring sakit. Rawat inap seperti Sasa. Dan karena terbaring di tempat yang sama, terjalinlah komunikasi di antara mereka. Saling mengenal. Saling menyapa. Saling bercerita,
mengungkapkan pengalaman masing-masing selama di pondok. Dan tidak seperti teman-teman sebayanya di asrama, kakak kelas senasib di klinik ini mampu menulari Sasa semangat, nasihat, dan dorongan yang selama ini tak didapatkannya dari teman-temannya. Sasa serasa mendapatkan "kakak". Sasa menjadi merasa tidak sendirian di tempat ini.
Tentu saja Pak dan Bu Khoirul gembira. Bahkan saking gembiranya, secara diam-diam, Bu Khoirul menitipkan uang kepada kakak kelas yang sama-sama terbaring di klinik itu untuk dipakai membelikan sesuatu buat Sasa, mengajaknya makan, atau kegiatan-kegiatan lain, semata agar Sasa merasa mendapatkan teman yang cocok di lingkungan ini.
Ketika sudah sembuh dari sakitnya, maka Pak dan Bu Khoirul kembali merasa deg-degan, kalau-kalau Sasa tetap ingin pergi dan tak kembali. Namun, ditunggu beberapa lama, tak juga ada ajakan yang dikhawatirkan itu. Sasa tak pernah lagi mengutarakan rencananya untuk pulang dan tak kembali ke pondok. Setidaknya hingga detik ini.
Bahkan ia mengaku mulai kerasan di pondok itu.
***
"Apakah Tuhan memberikan apa yang engkau harap dengan mengantarkannya dalam bungkusan yang indah?"
Neno Warisman pernah bertanya demikian pada sebuah acara di televisi, mengutip pernyataan seorang pakar yang aku lupa namanya.
"Tidak!" lanjut Neno.
"Tuhan tidak mengantarkan apa yang engkau minta dalam sebuah bungkusan yang menarik lagi indah. Bahkan Ia mengantarkannya dalam bungkusan yang jelek, ruwet, carut-marut, dan kelihatannya sukar untuk dibuka. Pertanyaannya adalah "mengapa?"
"Itu tidak lain karena Ia ingin melihat bagaimana engkau membuka bungkusan itu dengan penuh kesabaran, telaten, bersusah-payah lapis demi lapis, sedikit demi sedikit, terus, terus, dan terus. Tak pernah berhenti apalagi berpaling. Hingga pada akhirnya bungkus terakhir terbuka dan engkau mendapatkan sesuatu yang engkau harapkan ada di dalamnya."
Bukankah Allah pasti akan mengabulkan apa yang hamba-Nya pinta? Kuncinya kalau begitu adalah: Jangan pernah berhenti memuja. Jangan pernah berhenti berharap.
Allah tidak tidur. Allah Maha Mengetahui. Allah Maha Mendengar. Dia Maha Rahman dan Rahim.
Sungguh tak ada yang sepatutnya kita lakukan kecuali selalu berprasangka baik pada setiap pemberian-Nya. Entah nikmat, entah musibah. Karena musibah pun mungkin hanyalah bungkus belaka; yang selayaknya kita yakini bahwa itu semua hanya karena Ia ingin melihat kita membukanya dengan sepenuh cinta.
***
Bahtiar HS
Posted at 02:50 am by nurul_fath
Permalink
Saturday, June 24, 2006
Assalamu alaikum teman2!!!
Ga bosen2 saya terus menanyakan,, bagaimana kabar kalian??? semoga selalu dalam lindungan Allah SWT, yang lagi seneng, moga2 kesenangan tidak terlalu menenggelamkan diri kita terlalu dalam sehingga lupa bersyukur, buat yang lagi sedih dan menemui banyak masalah, sabar aja... karena pertolongan Allah selalu terbuka, Dia ga akan menguji di luar kemampuan kita.
Postingan kali ini... berasal dari email kiriman Mba' Febi tentang air, kalo boleh nyimpulin... jadi minum air 'bacaan' ga papa ya Mba???
Tulisan berikut ngejelasin ttg keistimewaan yg terdapat pada air, hasil temuan ilmuwan Jepang yg neliti sifat molekul air. Selamat membaca!!!

Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup."
Q.S. Al Anbiya:30)
Dalam kitab-kitab tafsir klasik, ayat tadi diartikan bahwa tanpa air semua akan mati kehausan. Tetapi di Jepang, Dr. Masaru Em oto dari Universitas Yokohama dengan tekun melakukan penelitian tentang perilaku air.
Air murni dari mata air di Pulau Honshu didoakan secara agama Shinto, lalu didinginkan sampai -5oC di Laboratorium, lantas difoto dengan mikroskop elektron dengan kamera kecepatan tinggi. Ternyata molekul air membentuk kristal segi enam yang indah.
Percobaan diulangi dengan membacakan kata, "Arigato (terima kasih dalam bahasa Jepang)"di depan botol air tadi. Kristal kembali membentuk sangat indah. Lalu dicoba dengan menghadapkan tulisan huruf Jepang,"Arigato". Kristal membentuk dengan keindahan yang sama.
Selanjutnya ditunjukkan kata "setan", kristal berbentuk buruk. Diputarkan musik Symphony Mozart, kristal muncul berbentuk bunga. Ketika musik heavy metal diperdengarkan, kristal hancur.
Ketika 500 orang berkonsentrasi memusatkan pesan "peace" di depan sebotol air, kristal air tadi mengembang bercabang-cabang dengan indahnya. Dan ketika dicoba dibacakan doa Islam, kristal bersegi enam dengan lima cabang daun muncul berkilauan. Subhanallah.
Dr. Emoto akhirnya berkeliling dunia melakukan percobaan dengan air di Swiss, Berlin, Prancis, Palestina, dania kemudian diundang ke Markas Besar PBB di New York untuk mempresentasikan temuannya pada bulan Maret 2005 lalu. Ternyata air bisa "mendengar" kata-kata, bisa "membaca" tulisan, dan bisa "mengerti" pesan. Dalam bukunya The Hidden Message in Water, Dr. Masaru Emoto menguraikan bahwa air bersifat bisa merekam pesan, seperti pita magnetik atau compact disk. Semakin kuat konsentrasi pemberi pesan, semakin dalam pesan tercetak di air. Air bisa mentransfer pesan tadi melalui molekul air yang lain. Barangkali temuan ini bisa menjelaskan, kenapa air putih yang didoakan bisa menyembuhkan si sakit.
Dulu ini kita anggap musyrik, atau paling sedikit kita anggap sekadar sugesti, tetapi ternyata molekul air itu menangkap pesan doa kesembuhan, menyimpannya, lalu vibrasinya merambat kepada molekul air lain yang ada di tubuh si sakit.
Tubuh manusia memang 75% terdiri atas air. Otak 74,5% air. Darah 82% air. Tulang yang keras pun mengandung 22% air. Air putih galon di rumah, bisa setiap hari didoakan dengan khusyu kepada Allah, agar anak yang meminumnya saleh, sehat, dan cerdas, dan agar suami yang meminum tetap setia. Air tadi akan berproses di tubuh meneruskan pesan kepada air di otak dan pembuluh darah. Dengan izin Allah, pesan tadi akan dilaksanakan tubuh tanpa kita sadari. Bila air minum di suatu kota didoakan dengan serius untuk kesalehan, insya Allah semua penduduk yang meminumnya akan menjadi baik dan tidak beringas.
Rasulullah saw. bersabda, "Zamzam lima syuribalahu", "Air zamzam akan melaksanakan pesan dan niat yang meminumnya". Barangsiapa minum supaya kenyang,dia akan kenyang. Barangsiapa minum untuk menyembuhkan sakit, dia akan sembuh. Subhanallah ... Pantaslah air zamzam begitu berkhasiat karena dia menyimpan pesan doa jutaan manusia selama ribuan tahun sejak Nabi Ibrahim a.s.
Bila kita renungkan berpuluh ayat Al Quran tentang air, kita akan tersentak bahwa Allah rupanya selalu menarik perhatian kita kepada air. Bahwa air tidak sekadar benda mati. Dia menyimpan kekuatan, daya rekam, daya penyembuh, dan sifat-sifat aneh lagi yang menunggu disingkap manusia.
Islam adalah agama yang paling melekat dengan air. Shalat wajib perlu air wudlu 5 kali sehari. Habis bercampur, suami istri wajib mandi. Mati pun wajib dimandikan. Tidak ada agama lain yang menyuruh memandikan jenazah, malahan ada yang dibakar. Tetapi kita belum melakukan zikir air. Kita masih perlakukan air tanpa respek. Kita buang secara mubazir, bahkan kita cemari.
Astaghfirullah.
Seorang ilmuwan Jepang telah merintis. Ilmuwan muslim harus melanjutkan kajian kehidupan ini berdasarkan AlQuran dan hadis.
Posted at 04:07 pm by nurul_fath
Permalink
Friday, June 09, 2006
Assalamu alaikum!!!!
Hwehehehehe.... long time not see.... maaf...maaf, andaikan orang lain yg mengurus blog ini, pasti ga akan terlantar deh. Makanya.. Boys!!! kan pada jago kompie tuh, ganti2an job lah...
So, ada kabar baru apa nih?!!? Hah!!! Ka Eri nikah??? hwehehe.... amiinn. Ka Febi gmn? dedeknya baik2 aja kan? terus... Bos Rizal!! pendekar kita..alah, gimana ada follow up lagi ga dr nurul fath?? pokoknya buat smua... semoga setiap langkah diberi kemudahan dan diiringi ridho Allah SWT..amiin.
Duh,bingung mau nulis apa, seperti biasa deh copy paste dr milist ato dr web site tetangga. Nah kali ini, ada cerita ttg.... apa ya?!!?? yah baca aja deh, intinya terutama didedikasikan untuk temen2 yang suka lupa bayar siomay...(loh kok?!!?).

Berat Langkah Si Tukang Siomay
Oleh Bayu Gawtama 15 Mei 2006 08:00 WIB
Kepulangan ke rumah harus tertunda, ketika pimpinan kantor meminta seluruh tim rapat mendadak. Berbagai bencana yang terjadi di negeri ini, juga gejolak yang tengah bergemuruh di Palestina meski disikapi secara cepat. Sebagai sebuah lembaga kemanusiaan yang memseriusi programnya dalam penanganan bencana, menjadi keharusan tersendiri untuk merespon secara cepat setiap bencana yang terjadi.
Namun bukan pentingnya rapat ini yang ingin saya ceritakan, bukan pula isi dan serunya rapat yang memakan waktu cukup lama hingga larut. Adalah sepuluh menit menjelang rapat dimulai, saat saya memesan sepiring siomay kepada tukang siomay langganan di depan kantor. Sesaat menjelang rapat, perut ini terasa berdendang minta diisi. Makanan ringan itulah yang menjadi pilihan, satu porsi pun terpesan.
Panggilan pun datang, rapat dimulai. Rapat dilanjutkan usai sholat Maghrib, dan terus berlangsung. Ada yang resah di bawah, ada yang bolak-balik masuk ruang kantor. Ianya hanya menemukan piring kosong di bawah meja saya. Setiap lima menit kembali balik ke dalam kantor berharap orang yang tadi memesan siomaynya sudah ada di tempat. Ternyata yang ditunggu masih di atas, terlupa oleh riuh rendah suasana rapat yang bersemangat.
Waktu terus bertambah, hingga seorang teman yang baru saja dari lantai dasar berbisik, "Sudah bayar siomay belum?" astaghfirullah...
Tak menunggu rapat selesai, acung tangan langsung bergegas ke bawah. Terhenti nafas ini tak mendapatkan orang yang dicari; si tukang siomay. Melirik sedikit ke bawah meja, piring kosongnya sudah tak ada. Mungkin ia pulang, tapi saya tak bisa berkata apa-apa sambil terus menggenggam empat lembar ribuan di tangan.
Cuma empat ribu memang. Tapi ia sebegitu pentingnya untuk bolak-balik ke dalam kantor berharap saya akan membayarnya. Terbayang saya betapa berat langkah si tukang siomay mendorong gerobaknya. Berpikir ia tentang uang belanja yang dinanti sang isteri, resah hatinya tak membawa mainan yang dipesan anak tercintanya. Mungkin semua karena empat ribu yang belum saya bayarkan. Dan boleh jadi, empat ribu itulah keuntungan hasil jualannya setelah disisihkan untuk setoran.
Berat langkah si tukang siomay. Itu terus tergambar dalam benak saya, sambil terus menggenggam empat lembar ribuan dan sesekali melirik ke bawah meja tempat piring bekas makan. Terbayang sedihnya sang isteri lantaran suaminya tak membawa uang belanja untuk esok, “Mau makan apa besok, pak?” Terlintas tangisan si anak yang mendapati bapaknya tak membawa serta mobil mainan plastik yang dipesannya. Bagaimana jika besok ia tak bisa berdagang karena uang setorannya kurang malam itu? Tuhan, berdosa lah hamba…
Tak lebih dari setengah jam, seseorang masuk ke dalam kantor. Senyumnya yang khas menyapa lembut. Saya tahu yang dinantinya. Sudah semalam ini, duh… ternyata betapa pentingnya empat lembar ribuan itu baginya. “Maafkan saya mas,” nyaris bibir ini tak mampu berucap apa pun.
Bayu Gawtama
http://gawtama.multiply.com
Posted at 09:31 pm by nurul_fath
Permalink
Wednesday, April 12, 2006
Habis gelap... terbitlah terang
Assalamu alaikum....!!!!
Lama ga On Line... sorry ya. Hmmm, baru buka2 email nih... trus ada pengantin baru nulis2 ttg cemburu getoh...hehehehe jadi curiga hmmm.... alah kok jd ngegos.
Well agak beda sama kecemburuan dlm rumah tangga apalagi kecemburuan sosial, saudara kita ini menulis ttg kecemburuan yang berakibat lebih parah `Bagaimana kalo kita dah ngebuat Allah cemburu?` wah2... parah tuh, bisa dicuekin seumur idup. Baca deh nih tulisannye.

Saudaraku, ... Hingga saat ini, ketika mata kita membaca kalimat demi kalimat tulisan ini, pernahkah kita berpikir setinggi apa prioritas yang ada dalam jiwa, antara keridhaan Allah SWT dan kehendak nafsu kita yang harus meminimalisir keridhaan Allah SWT? Seperti apakah perbandingan porsi kepentingan yang ada dalam hati, antara keharusan tunduk total pada Allah SWT dan hasrat kita yang bertolak belakang dengan ketundukan pada Allah SWT?
Penting sekali masalah seperti ini menjadi bahan perenungan rohani kita. Karena kecenderungan taat pada Allah SWT. Dan porsi kepentingan yang lebih besar kepada hasrat dunia, selalu meminimalkan kedudukan dan porsi ketundukan kepada Allah SWT. Itulah yang dimaksud dalam nasihat seorang salafus shalih, bernama Malik bin Dinar rahimahullah. Ia mengatakan "Sebesar kadar kesedihanmu untuk urusan dunia, maka sebesar itu pulalah akan terusir obsesi akhiratmu. Sama dengan, sebesar kadar kegelisahanmu untuk urusan akhirat, maka sebesar itu pulalah akan terbuang obsesi duniamu." (Az Zuhd, Ahamd bin Hambal, 387).
Saudaraku yang tak pernah terputus dari rahmat Allah, ... Tak ada yang lebih cemburu daripada Allah SWT kepada HambaNya yang mengikuti keinginan selainNya. Perhatikanlah sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya Allah cemburu dan orang beriman pun cemburu. Allah akan cemburu apabila seseorang melakukan apa yang di haramkan." (HR. Ahmad, Muslim). Kecemburuan Allah SWT, seperti disabdakan oleh Rasulullah SAW adalah ketika ada hamba yang lebih mengutamakan makhluk dariNya. Kecemburuan Allah SWT bahkan lebih besar ketimbang manusia yang paling cemburu. Sehingga pernah suatu saat, ketika terjadi gerhana matahari, Nabi shallallaahu alaihu wa sallam bersabda di dalam khutbahnya, "Wahai umat Muhammad, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu dibanding Allah." (Muttafaq 'alaih).
Saudaraku, ... Rasulullah SAW itu juga pencemburu. Lalu, suami shalih dan istri shalihah juga pencemburu. Ketika Sa'ad bin Ubadah berkata, "Seandainya aku menemukan seorang laki-laki bersama istriku tentu aku tebas ia dengan pedang, bukan dengan lempengnya tetapi dengan mata pedangnya," Maka Rasulullah SAW bersabda, "Apakah kalian merasa heran dengan kecemburuan Sa'ad? Sesungguhnya aku lebih dibanding dia, dan Allah lebih cemburu dibanding aku." (Muttafaq 'alaih). Tentang kecemburuan isteri shalihah, suatu saat Rasulullah SAW bertanya kepada Aisyah, "Apakah engkau pernah merasa cemburu?" Aisyah Menjawab, "Bagaimana mungkin orang seperti dirirku ini tidak merasa cemburu jika memiliki seorang suami seperti dirimu." (HR. Ahmad di dalam Musnadnya dan Iman Muslim).
Saudaraku, ... Mukmin yang shalih juga pencemburu. Ibnu Hasyim meriwayatkan, bahwa ada seorang wanita Arab membawa barang dagangannya untuk dijual di pasar Bani Qainuqa' (salah satu suku Yahudi Madinah). Ia duduk berdekatan dengan tukang perhiasan emas dan perak. Lalu sekelompok orang Yahudi datang dan bermaksud akan menyikap wajahnya, namun wanita itu menolak keras. Kemudian, secara diam-diam si tukang perhiasan mengikatkan ujung pakai wanita itu kepunggungnya, sehingga ketika wanita itu berdiri auratnya tersingkap dan ia pun berteriak. Mendengar jeritan itu, seorang lelaki Muslim melompat menyerang, menindih lalu menghabisi nyawa tukang perhiasan jahat tadi. Akibatnya, sekelompok orang Yuhadi mengeroyok lelaki muslim itu hingga tewas. Mendengar peristiwa itu Rasulullah SAW langsung berangkat bersama sejumlah pasukannya. Mereka mengepung Bani Qainuqa', sampai orang-orang Yahudi itu menyerah dan nabi mengusir mereka ke negeri Syam.
Al-Qur'an yang lazimnya minimal kita baca satu hari satu juz itu juga ternyata pencemburu. Syaikh Muhammad Jibril, salah satu ulama Al-Qur'an asal Mesir mengatakan, "Al-Qur'an itu Pencemburu. Kecemburuannya itu adalah ketika seseorang meninggalkan Al-Qur'an satu hari, maka Al-Qur'an akan meninggalkan selama satu minggu. Ketika seseorang meninggalkan Al-Qur'an satu minggu, maka Al-Qur'an akan meninggalkannya selama Satu Bulan."
Saudaraku, ... Sadarkah kita, bahwa kita dicemburui Allah SWT. Kita juga dicemburui Rasulullah SAW, dan bahkan dicemburui Al-Qur'an. Bagaimana kita menerima kecemburuan yang begitu mulia itu? Seperti apa kebanggaan dan kebesaran hati kita mendengar kecemburuan seperti ini? Kecemburuan itu adalah karena kita adalah manusia yang dasarnya adalah sudah mulia, lalu kita telah menjadi seorang Mukmin sehingga kedudukan kita menjadi makhluk.
Allah yang paling berharga. Kita juga harus memiliki kecemburuan itu. Kita harus menjadi pencemburu dalam lingkup pengertian yang dibentangkan oleh Allah dan Rasulullah SAW itu. Kecemburuan dalam arti ghirah yang memadukan rasa memiliki kebenaran dan semangat membela kebenaran. Seperti sabda Rasulullah SAW, "Al mukminu yughaaru wallaahu asaddu ghairah." Orang-orang mukmin itu pencemburu dan Allah lebih pencemburu. (HR. Muslim).
Saudaraku, merenunglah ... Barangkali, selama ini kita sangat rendah kadar ghirah atau cemburunya. Sehingga kerap tidak tersentuh dengan ragam penyimpangan yang harusnya mati-matian kadar ghirah atau cemburunya. Sehingga diri sendiri juga melakukan banyak prilaku yang benar-benar membuat Allah SWT, Rasulullah SAW, dan Al-Qur'an cemburu. Namun kita hampir tidak merasakan kecemburuan itu. [Tarbawi-125/7/020206]
P:S picture taken from http://pinker.wjh.harvard.edu
Posted at 10:48 am by nurul_fath
Permalink
Wednesday, March 15, 2006
Ngeliat watak dari cara tidur
Hmmmm..... bisa yah? Tulisan ini berasal dari temen kampus, sumpah awal2nya sih serius, tapi menjelang akhir mulai gokil...hehehe
Percaya ga percaya sih ttg pengamatan psikologi bantal di bawah ini, kalo mau tau yg bener tanya aja "psikolog tampan" kita...alah

Tahukah anda watak kita dapat dikenali melalui cara kita menggunakan bantal sewaktu tidur ?
-- 1) Memeluk Bantal Mereka yg suka memeluk bantal biasanya berjiwa seni. Mereka mempunyai penghargaan yg tinggi terhadap lukisan,muzik dan satera.Perasaan mereka halus dan jiwa mereka romantik. Kadangkala ada yg boleh membaca peristiwa yg akan berlaku melalui mimpi. Mereka juga sangat prihatin terhadap kesusilaan. -- 2) Menggunakan Banyak BantalMereka biasanya kurang keyakinan.Dalam kehidupan seharian mereka memerlukan banyak pendamping. Mereka jarang membuat keputusan sendiri, sebaliknya mendapatkan pandangan orang lain. -- 3) Tidur Dengan Satu BantalMereka bukan jenis mengada-ngada dan boleh menerima keadaan seadanya. Mereka juga membuat keputusan berdasarkan fikiran dan bukan nafsu semata-mata. -- 4) Meletakkan Bantal Di Bawah Kaki Mrk mempunyai sifat kurang baik. Mereka jarang bergaul dgn org ramai, malah kaku dalam pergaulan. Ini menyebabkan mereka cenderung bersifat egois. Mereka juga gemar menempuh jalan pintas utk mencapai cita2. Mereka tdk suka berusaha. -- 5) Tidur tanpa BantalMereka memiliki sifat percaya diri yg sangat tinggi. Kadangkala sifat percaya diri ini akhirnya akan membawa kepada sifat ego. -- 6) Tidak punya bantalKasian deh lo.. -- 7) Nemu bantalBeruntung deh lo...-- 8) Tidur gigit bantal.Kelaparan deh lo...-- 9) Tidur sambil lempar bantal.Kesurupan setan ?
P:S picture taken from http://www.martinidez.com/commute/image/sleep.jpg
Posted at 01:36 pm by nurul_fath
Permalink
Wednesday, March 01, 2006
Betul kalau nabi SAW menyuruh kita senantiasa membagi makanan kepada tetangga, jika aromanya sampai tercium, barangkalis salah satu manfaatnya adalah seperti yang diutarakan oleh tulisan dibawah ini...

Pagar Sepiring Nasi
Oleh: Bahtiar HS
24 Peb 2006 08:07 WIB
Kuliah Shubuh, Ahad, minggu lalu di masjid kampung saya. Topiknya berat: Pola Konsumsi Muslim, menukil pendapat Dr. Yusuf Qaradhawi. Tetapi, yang ingin saya sampaikan kali ini bukan materi berat itu, melainkan sebuah humor, yang jadi selingan ustadz pengisi siraman rohani pagi itu. Bukan karena lucu, melainkan justru karena sangat bermakna.
Dialog ini diambilnya dari lawakan Srimulat, entah kapan. Saya sendiri rasanya belum pernah mendengarnya. Ustadz itu kemudian bercerita -- dengan tokoh yang saya reka sendiri:
Asmuni bertanya pada teman-temannya, "Ada yang tahu nggak, apa yang paling aman bisa menjaga rumah kita dari gangguan orang?"
Sejenak kemudian, Tarsan yang tinggi besar menjawab, dengan gaya sangat meyakinkan, "Yang paling aman adalah buat pagar yang sangat tinggi, biar orang tidak bisa memasuki atau melompat ke dalam halaman rumah kita."
Asmuni tertawa. "Ha ha ha! Syalahh!!"
Timbul menimpali jawab. "Pelihara aja anjing herder yang paling gedhe dan galak! Ya, kan Asminu? Eh, Asmuni?"
Asmuni tertawa lagi. "Ha ha ha! Sudah ngawur, salah pula!!"
Bisa ditebak, akhirnya tidak ada yang bisa memberi jawaban yang menurut Asmuni benar. Semua menyerah. "Apa dong jawabnya?" tanya mereka.
"Ha ha! Nyerah?" tanya Asmuni meledek sambil mesam-mesem. "Jawabnya gampang! Yang paling aman menjaga rumah kita adalah ? sepiring nasi!"
"Sepiring nasi?" ulang Timbul linglung. "Ah, ojo guyon?"
"Ini betul, Pak Timbul!"
"Gimana mungkin sepiring nasi bisa menjadi penjaga paling aman rumah kita?"
"Lho, coba saja. Berilah tetangga kita sepiring nasi, merata, dan yang sering-sering aja," kata Asmuni serius. "Bahkan rumah kita tak dikasih pagar sekalipun tidak akan ada yang nyolong. Ya, nggak?"
Semua melongo, kemudian mengangguk-angguk.
***
Yang kemudian akan saya ceritakan ini bukan lawakan, melainkan kenyataan yang saya alami dan lihat dengan mata kepala sendiri. Sebuah pengalaman nyata.
Pertengahan Januari 2005 yang lalu, selepas tsunami melanda Aceh dan sekitarnya, saya berkesempatan mengunjungi Tuan Haji Ismail bin Haji Ahmad, pemilik perusahaan HPA Sdn. Bhn. di Negara Bagian Perlis, Malaysia. Kebetulan istri saya sedang belajar ilmu pengobatan herba di Kolej Perubatan Jawi (KPJ) di bawah pembinaan beliau selama satu setengah bulan.
Ada dua hal yang sangat berkesan di hati saya ketika itu. Pertama, ketika pertama kali datang di areal KPJ, saya disambut Tuan Haji Ismail dan dipeluknya bagai saudara dekat yang datang dari perjalanan jauh ? dan memang sangat jauh mengingat Perlis terletak di perbatasan Malaysia dengan Thailand Selatan. Dan yang kedua, dipersilakannya saya bersama istri dan anak saya yang masih menyusu untuk menginap di rumah beliau, di bilangan Jejawi, sekitar 10 km dari Kangar, ibukota Perlis.
"Anggap rumah sendiri, Pak Bahtiar,"
kata tuan rumah yang ramah ini.
Rumah itu berbentuk sebagaimana rumah di Jawa. Terbuat dari pasangan batu bata dan semen, dengan atap dari seng atau genteng. Langit-langitnya ditutup asbes dan lantainya dipasangi keramik apa adanya. Di sebelahnya ada rumah panggung dari kayu, bentuk khas rumah penduduk di sana yang kiranya tetap dipertahankan. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu (Jawa: gedheg) yang berlubang-lubang sehingga ketika tidur bisa mengintip bintang di langit. Di sebelahnya lagi sebuah surau sederhana, tempat keluarga Tuan Haji dan masyarakat sekitarnya salat berjamaah.
Meskipun ada pagar berbatasan dengan jalan, tetapi jalan masuk ke lingkungan rumah ini tidak berpintu. Juga antara rumah satu dengan tetangga lainnya yang berdekatan tidak ada pagar pembatas.
Kami ditempatkan beliau di rumah batu-bata; di sebuah kamar, yang biasa dipakai putra-putri beliau jika sedang di rumah ? pada saat itu, semua anaknya (kecuali yang baru lahir) sedang berada di pondok pesantren tahfidhul qur'an!
Di lingkungan ini berkumpul satu komunitas masyarakat ? semacam dusun di Indonesia ? yang terdiri atas beberapa puluh rumah. Dusun ini dikelilingi oleh hamparan sawah yang luas dan terbuka dengan latar belakang bukit yang menjulang di kejauhan. Sungguh pemandangan pedesaan yang modern tetapi asri. Mengapa saya bilang modern, karena fasilitas jalan yang tersedia sangat lebar, mulus, tertib, lengkap dengan rambu-rambu yang bagus dan terawat. Juga terdapat banyak pabrik beraneka rupa yang memproduksi berbagai jenis barang komoditi. Singkat kata, Jejawi bukan serupa pedesaan di Jawa, melainkan sungguh-sungguh sebuah kota yang ramai.
Ada satu hal yang paling berkesan tinggal di rumah Tuan Haji Ismail ini. Rumah beliau yang kami tempati tersebut tidak pernah dikunci! Ya, tidak pernah dikunci! Di malam hari sekalipun. Bahkan mobil beliau -- dua atau tiga, saya tak tahu pasti jumlahnya -- hanya diparkir di samping rumah, tanpa pagar, dengan kunci yang hanya diletakkan di teras. Setiap orang dengan sangat mudah menemukannya jika mau.
Jika kami masuk rumah, tinggal mencopot sepatu di luar pintu, membuka pintu sebagaimana adanya dan menutupnya sedemikian rupa. Itu saja. Di dalam rumah pun demikian juga. Kami dengan mudahnya bisa masuk ke ruang tamu beliau, perpustakaan, ruang makan, dapur.
Selama lima hari tinggal di rumah itu ? kebetulan beliau juga sedang ke Aceh, membantu korban tsunami ? tak ada pertanyaan yang menarik untuk dicari jawabnya kecuali mengapa rumah ini tidak pernah dikunci. Apakah pemilik rumah ini tak takut kehilangan benda berharga di dalamnya? Apakah Tuan Haji tidak pernah kemalingan?
Jawabnya ternyata tidak jauh dari lawakan di atas. Ya, sepiring nasi. Maksud saya, Tuan Haji terkenal sebagai orang yang dermawan, suka memberi pada tetangganya, pada orang lain yang membutuhkan. Ia sangat memperhatikan zakat dan infaqnya. Ia pun sangat sederhana. Bahwa baju yang dimilikinya hanya cukup dipakai bergantian selama seminggu alias tujuh hari barangkali sudah cukup menggambarkan betapa ia hidup bersahaja dan tidak bermewahan. Padahal beliau adalah pemilik perusahaan HPA yang produknya sudah merambah tidak hanya Malaysia, tetapi juga seluruh pelosok Indonesia, Thailand, bahkan Timur Tengah. Ia seorang muslim yang konglomerat kalau boleh saya bilang.
Bagaimana jika harta di rumah Tuan Haji dibawa maling? Seseorang pernah bertanya demikian. "Itu saya anggap Allah sedang membersihkan harta saya yang mungkin kotor," jawab herbalis itu. Namun, apakah Tuan Haji pernah kemalingan? "Pernah juga," jawabnya kalem. "Tetapi sekalinya pencuri itu mengambil barang-barang di rumah saya, tak berapa lama kemudian ianya kembali ke rumah dan mengembalikan barang-barang yang diambilnya semula."
Yah, kalau begitu sih, tak usah dikunci juga tak apa-apa. Pencuri saja akan mengembalikan hasil curiannya dari rumah Tuan Haji. Jadi, apatah gunanya dikunci-kunci pula?
***
Sudah lima hari saya di Malaysia dan menginap di rumah itu. Saya sudah waktunya pulang ke Indonesia. Istri dan beberapa teman peserta KPJ serta karyawan Tuan Haji Ismail mengajak saya berkeliling Perlis. Ke Gua Kelam, Wang Kelian di perbatasan Malaysia dengan Thailand, Masjid Kangar, dan sebagainya. Karena saya akan pergi seharian dan kebetulan saya membawa tas berisi laptop milik perusahaan tempat saya bekerja, maka secara refleks saya memasang kunci kamar dari dalam. Toh tinggal pencet. Dalam batin saya, takutnya kalau laptop mahal itu hilang dicuri orang. Ketika pintu saya tutup dari luar dan kemudian ? klik! ? terkunci, barulah saya menyadari bahwa saya betul-betul tidak tahu di mana anak kuncinya berada.
Akhirnya saya lalui kunjungan ke beberapa tempat tersebut dengan hati yang tak jenak. Gara-gara suudzon pada rumah Tuan Haji yang tak berkunci, justru saya terlibat kesulitan karena telah mengunci kamar tanpa tahu di mana anak kuncinya berada. Mana tuan rumah juga sedang tidak di tempat. Maka setelah kunjungan selesai, kami berkeliling mencari tukang kunci di Kangar. Untung masih ada satu toko yang buka ? itupun setelah orangnya ditelpon ke rumah.
Jadilah kami membongkar kunci kamar Tuan Haji hanya karena kelalaian kecil; hingga karenanya saya harus membayar RM 70 pada tukang kunci necis itu ?bawaannya mobil keren. Uang itu setara dengan Rp 175.000,- hanya untuk kerjaan ketrampilan tangan Mac Giver mengkutak-katik lubang kunci dengan sejengkal kawat.
Mungkin untuk bisa seperti Tuan Haji Ismail yang tanpa beban membiarkan pintu rumahnya tak berkunci, saya harus membuang jauh-jauh prasangka jelek (suudzon) pada orang lain, di samping tentu berbagi "sepiring nasi".
Wa Allahu a'lam
Posted at 11:07 am by nurul_fath
Permalink
Saturday, February 18, 2006
Hello...hello... again with me Bingung mo nulis ttg apa, yang lain pada masuk dong.... n write somethin!!! Kayanya aneh aja, it seems like this is my own blog... Well anyway, di kesempatan kali ini cuma mau publish cerita ttg seorang anak yg merasa kehilangan keberadaan ayah di sisinya... hiks2.

Seperti biasa Rudi, kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.
"Kok, belum tidur?" sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.
Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab, "Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?" "Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?"
"Ah, enggak. Pengen tahu aja." "Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja.
Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?" Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.
"Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000 ,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong," katanya. "Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok," perintah Rudi. Tetapi Imron tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, "
Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?" "Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah." "Tapi, Ayah..." Kesabaran Rudi habis. "Ayah bilang tidur!" hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya.
Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya. Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, "Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok' kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih."
"Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini." "Iya,iya, tapi buat apa?" tanya Rudi lembut. "Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-.
Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah," kata Imron polos. Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat. * * * berikan pandangan teman-teman...
P:S picture taken from http://www.gimcracker.com/archives/father-and-son.jpg
Posted at 11:45 am by nurul_fath
Permalink
Wednesday, February 15, 2006
BERGERAKLAH!!!! Hmmm... 11 kata ajaib yang bisa merubah hidup kita... Masalah dari sebuah perubahan adalah "When you will start it?". Tulisan yang ringkas namun mengupas kehidupan secara tajam sejatam silet ini (alah...kebanyakan nonton infotainment..) menyadarkan kita tentang apa sebenarnya hakikat sebuah perubahan. Hal yang terjadi pada beberapa orang, termasuk saya sendiri, yaitu saat dimana kita berpikir "Gw akan berubah!!!" tapi kita ga tau harus mulai darimana karena banyak bgt aspek dari diri kita yang mau kita ubah akhirnya kita hanya bingung dan tetap berkutat dengan diri kita yang "lama".
Peubahan emang ga gampang, banyak banget jatuh bangunnya, yang penting adalah keteguhan untuk terus mencoba. Mungkin manusia yang bisa dengan gampang berubah adalah Kotaru Minami kali ya, karena hanya dengan mengucap the magic word "BERUBAH!!!" dalam sekejap dia udah berubah jadi Ksatria Baja Hitam...hehe.
Tulisan ini mungkin tidak begitu memberikan solusi berupa cara2 real step by step (kalo mo lengkap beli bukunya kali ya...), tapi setidaknya memberikan kita penyadaran..So, nunggu apa lagi.. Baca dan lekaslah bergerak!!!

BERGERAK (Rhenald Kasali)
"Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan)."
Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru saya, "ChaNge". Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Di tengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, Saya tawarkan uang itu.
"Silahkan, siapa yang mau boleh ambil," ujar Saya. Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.
Seperti yang saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius. Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya. Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak. Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk. Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya.
Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya. Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan. Semua audiens tertegun. Saya ulangi pesan saya, "Silahkan ambil, silahkan ambil." Ia menatap wajah saya, dan saya pun menatapnya dengan wajah lucu. Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu. Saya ulangi lagi kalimat saya, dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan saya dan kembali ke kursinya. Semua audiens tertawa terbahak-bahak. Seseorang lalu berteriak, "Kembalikan, kembalikan!" Saya mengatakan, "Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya."
Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000. Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak. Bukankah uang yang Saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan? Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:
"Saya pikir Bapak cuma main-main ............" "Nanti uangnya toh diambil lagi." "Malu-maluin aja." "Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!" "Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu ..." "Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya...." "Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas....." "Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang........." "Saya, kan duduk jauh di belakang..." dan seterusnya.
Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari. Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan), tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja. Kita tidak menyambarnya, padahal kita ingin agar hidup kita berubah.
Seorang waras di rumah sakit jiwa memberi komentar : "Orang 'sakit' (gila) itu selalu berorientasi ke masa lalu, sedangkan saya selalu berpikir ke depan. Yang gila itu adalah yang selalu mengharapkan perubahan, sementara melakukan hal yang sama dari hari ke hari.....," katanya penuh semangat." Saya pun mengangguk-angguk.
Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, Saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama. Mungkin benar kata teman Saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana. Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari. Jadi omong kosong perubahan akan datang. Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.
Dulu, menjelang Soeharto turun orang-orang sudah gelisah, tapi tak banyak yang berani bergerak. Tetapi sekali bergerak, perubahan seperti menjadi tak terkendali, dan perubahan yang tak terkendali bisa menghancurkan misi perubahan itu sendiri, yaitu perubahan yang menjadikan hidup lebih baik. Perubahan akan gagal kalau pemimpin-pemimpinnya hanya berwacana saja. Wacana yang kosong akan destruktif.
Manajemen tentu berkepentingan terhadap bagaimana menggerakkan orang-orang yang tidak cuma sekedar berfikir, tetapi berinisiatif, bergerak, memulai, dan seterusnya. Get Started. Get into the game. Get into the playing field, Now. Just do it!.
Janganlah mereka dimusuhi, jangan inisiatif mereka dibunuh oleh orang-orang yang bermental birokratik yang bisanya cuma bicara di dalam rapat dan cuma membuat peraturan saja. Makanya tranformasi harus bersifat kultural, tidak cukup sekedar struktural. Ia harus bisa menyentuh manusia, yaitu manusia-manusia yang aktif, berinisiatif dan berani maju.
Manusia pemenang adalah manusia yang responsif. Seperti kata Jack Canfield, yang menulis buku Chicken Soup for the Soul, yang membedakan antara winners dengan losers adalah "Winners take action! they simply get up and do what has to be done!". Selamat bergerak!
(Sumber: Bergerak oleh Rhenald Kasali)
from : syahidfam.blogspirit.com/artikel_bisnis
Posted at 09:19 am by nurul_fath
Permalink
Assalamu alaikum!!!! Di tengah ramainya demonstrasi menentang kartun Rasulullah, akhirnya kita bisa upgrade lagi (hehehe...ga nyambung ya??). By the way, dah liat blom gimana tuh kartunnya? (eh..boleh ga ya liat..?hehe tapi dah terlanjur liat...) Pokoknya tuh gambar jelek gitu deh, mukanya tergambar dalam raut muka yang galak dan kayaknya kejam, dah gitu badannya tambun lagi... ga banget deh...
So, gimana pendapat kalian??? Banyak yang mengatakan bahwa ada rencana jahat yang besar di balik smua itu, apalagi kekekehan hati (alah..bahasanya itu loh!!) pemerintah Denmark didukung oleh AS, sebel deh... ngalah aja kek mas!!! Oh ya kabar terbaru, karena shock melihat masalah ini menmbulkan kecaman byk pihak, katanya tuh kartun mau dimasukkin ke dalam buku kurikulum sejarah supaya jadi pelajaran bwt generasi berikutnya, niatnya sih biar kejadian ini ga terulang.. yeee... mau bikin masalah lagi???
Well by the way.... agak ga nyambung sama pembicaraan di atas, berikut ini ada puisi yang diambil di milist, sebuah karya dari Muhammad Surya tentang ibu... hmmm...kayaknya saudara kita ini lagi melo nih..hehehe

Bundaku
Seperti kehidupan....
Tanah memberi nafasnya
agar pohon mengembang hijau
Seperti kehidupan....
Pohon merawat buahnya
agar kelak bisa berjaya
Seperti kehidupan....
Hanya ada kasih dalam matanya hanya untukku,
Walau beribu beban difikirnya,
beribu luka dihatinya
Hanya ada cinta dibibirnya
Mungkin ia adalah makhluk paling aneh di dunia
Yang tak inginkan nestapa pada kasihnya
Ynag tak pernah perlihatkan lukanya pada dunia
Lalu kusadari,
dunia makin lapang
saat ia antarkan aku
mengawal laju langkahku
Lalu betapa sempitku
saat muram selimuti wajahnya,
dan ia tahu hal itu....!!!!
Lalu dengan cepat,
secepat permainan sulap
ia ubah rautnya
tanpa ada yang tahu dukanya
Dan dengan bangga
aku berkata....
dialah bundaku
yang selalu tersenyum hanya untukku
P:S picture taken from http://www.detroitartistsworkshop.org/Visual/HowardWStudio/HowardWStudioJPEG/MOTHER%20&%20CHILD-PRINT.jpg
Posted at 08:55 am by nurul_fath
Permalink
Friday, February 03, 2006
Marriage??? What a huge step...
Assalamu alaikum brada~ and sista~???? Waz up nih??? MOga good2 lah ya...
Well... kalo ngeliat judul kali ini, pasti ngerti dong mau bahas apa di blog ini.... hehehe... yup, its about marriage. Knapa bahas itu? Yah... biar agak nyambung sama momen yg baru2 ini aja.. yaitu menikahnya sekaligus dua senior kita yaitu kak febi dan mas syahid (atau yg biasa dipanggil marsha oleh anak2)... That's a little bit surprising for me, but anyway selamet ya.. semoga bisa menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah... Amiin. Semoga ibadah tersebut bisa disusul oleh yang lainnya (alah... mang maunya...hehe)
Pada posting-an kali ini, biar nyambung ma temanya, saya akan menampilkan (sekali lagi) messages dari milist (hehehe...ga kreatif ya?? yee...biarin aja) yaitu dari Pritta yang gencar mengirimkan ke hampir semua milist ttg proposal nikah (hehehe... is that meaning something?). Well anyway, saya memahami bahwa beberapa anak2 nurul fath mungkin masih terlalu dini (alias brondong) buat mengetahui ini, tapi ga ada salahnya juga kan... sapa tau gt loh, ada yg sudah matang lebih awal (dah lama di taro di beras kali y... hehe apaan sih). Ya udah deh drpd ngelantur mulu. Here is the proposal!!!
| KADO BUAT YANG MAU DAN SIAP MENIKAH..BARAKALLAHU !!! |
| |
|
Latar Belakang
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan nikmatNya kepada kita. Amin
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati..sebagai hamba Allah, saya telah diberi berbagai nikmat. Maha Benar Allah yang telah berfirman : "Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha Melihat segala sesuatu".
Nikmat tersebut diantaranya ialah fitrah kebutuhan biologis, saling membutuhkan terhadap lawan jenis.. yaitu: Menikah ! Fitrah pemberian Allah yang telah lekat pada kehidupan manusia, dan jika manusia melanggar fitrah pemberian Allah, hanyalah kehancuran yang didapatkannya..Na'udzubillah ! Dan Allah telah berfirman : "Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor" (Qs. Al Israa' : 32).
Ibunda dan Ayahanda tercinta..melihat pergaulan anak muda dewasa itu sungguh amat memprihatinkan, mereka seolah tanpa sadar melakukan perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Seolah-olah, dikepala mereka yang ada hanya pikiran-pikiran yang mengarah kepada kebahagiaan semu dan sesaat. Belum lagi kalau ditanyakan kepada mereka tentang menikah. "Saya nggak sempat mikirin kawin, sibuk kerja, lagipula saya masih ngumpulin barang dulu," ataupun Kerja belum mapan , belum cukup siap untuk berumah tangga??, begitu kata mereka, padahal kurang apa sih mereka. Mudah-mudahan saya bisa bertahan dan bersabar agar tak berbuat maksiat. Wallahu a'lam.
Ibunda dan Ayahanda tersayang..bercerita tentang pergaulan anak muda yang cenderung bebas pada umumnya, rasanya tidak cukup tinta ini untuk saya torehkan. Setiap saya menulis peristiwa anak muda di majalah Islam, pada saat yang sama terjadi pula peristiwa baru yang menuntut perhatian kita..Astaghfirullah.. Ibunda dan Ayahanda..inilah antara lain yang melatar belakangi saya ingin menyegerakan menikah.
Dasar Pemikiran
Dari Al Qur??an dan Al Hadits :
-
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).
-
"Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah." (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).
-
?Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui?? (Qs. Yaa Siin (36) : 36).
-
Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik (Qs. An Nahl (16) : 72).
-
Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).
-
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71).
-
Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali. (Qs. An Nisaa (4) : 1).
-
Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).
-
..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..(Qs. An Nisaa' (4) : 3).
-
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata. (Qs. Al Ahzaab (33) : 36).
-
Anjuran-anjuran Rasulullah untuk Menikah : Rasulullah SAW bersabda: "Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !"(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).
-
Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah (HR. Tirmidzi).
-
Dari Aisyah, "Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu?? (HR. Hakim dan Abu Dawud). 14. Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya." (HR. Baihaqi).
-
Dari Amr Ibnu As, Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.(HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).
-
"Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim) : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram."
-
"Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud).
-
Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak (HR. Abu Dawud).
-
Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain (HR. Abdurrazak dan Baihaqi).
-
Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan) (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).
-
Rasulullah SAW. bersabda : "Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah" (HR. Bukhari).
-
Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang (HR. Abu Ya??la dan Thabrani).
-
Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat. (HR. Ibnu Majah,dhaif).
-
Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka (Al Hadits).
Tujuan Pernikahan
-
Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul.
-
Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
-
Mewujudkan keluarga Muslim menuju masyarakat Muslim.
-
Mendapatkan cinta dan kasih sayang.
-
Ketenangan Jiwa dengan memelihara kehormatan diri (menghindarkan diri dari perbuatan maksiat / perilaku hina lainnya).
-
Agar kaya (sebaik-baik kekayaan adalah isteri yang shalihat).
-
Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan kekeluargaan)
Kesiapan Pribadi
-
Kondisi Qalb yang sudah mantap dan makin bertambah yakin setelah istikharah. Rasulullah SAW. bersabda : ??Man Jadda Wa Jadda?? (Siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia akan berhasil melewati rintangan itu).
-
Termasuk wajib nikah (sulit untuk shaum).
-
Termasuk tathhir (mensucikan diri).
-
Secara materi, Insya Allah siap. ??Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya?? (Qs. At Thalaq (65) : 7)
Akibat Menunda atau Mempersulit Pernikahan
-
Kerusakan dan kehancuran moral akibat pacaran dan free sex.
-
Tertunda lahirnya generasi penerus risalah.
-
Tidak tenangnya Ruhani dan perasaan, karena Allah baru memberi ketenangan dan kasih sayang bagi orang yang menikah.
-
Menanggung dosa di akhirat kelak, karena tidak dikerjakannya kewajiban menikah saat syarat yang Allah dan RasulNya tetapkan terpenuhi.
-
Apalagi sampai bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Rasulullah SAW. bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, karena yang menjadi pihak ketiganya adalah syaitan." (HR. Ahmad) dan "Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya" (HR. Thabrani dan Baihaqi).. Astaghfirullahaladzim.. Na'udzubillahi min dzalik
Namun, umumnya yang terjadi di masyarakat di seputar pernikahan adalah sebagai berikut ini :
-
Status yang mulia bukan lagi yang taqwa, melainkan gelar yang disandang:Ir, DR, SE, SH, ST, dsb
-
Pesta pernikahan yang wah / mahar yang tinggi, sebab merupakan kebanggaan tersendiri, bukan di selenggarakan penuh ketawadhu'an sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. (Pernikahan hendaklah dilandasi semata-mata hanya mencari ridha Allah dan RasulNya. Bukan di campuri dengan harapan ridha dari manusia (sanjungan, tidak enak kata orang). Saya yakin sekali.. bila Allah ridha pada apa yang kita kerjakan, maka kita akan selamat di dunia dan di akhirat kelak.)
-
Pernikahan dianggap penghalang untuk menyenangkan orang tua.
-
Masyarakat menganggap pernikahan akan merepotkan Studi, padahal justru dengan menikah penglihatan lebih terjaga dari hal-hal yang haram, dan semakin semangat menyelesaikan kuliah.
Memperbaiki Niat :
Innamal a'malu binniyat....... Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungan pada apa-apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan.
Niat Ketika Memilih Pendamping
Rasulullah bersabda "Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya."(HR. Thabrani).
"Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama". (HR. Ibnu Majah).
Nabi SAW. bersabda : Janganlah kalian menikahi kerabat dekat, sebab (akibatnya) dapat melahirkan anak yang lemah (baik akal dan fisiknya) (Al Hadits).
Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda, ??Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama." (HR. Muslim dan Tirmidzi). Niat dalam Proses Pernikahan
Masalah niat tak berhenti sampai memilih pendamping. Niat masih terus menyertai berbagai urusan yang berkenaan dengan terjadinya pernikahan. Mulai dari memberi mahar, menebar undangan walimah, menyelenggarakan walimah. Walimah lebih dari dua hari lebih dekat pada mudharat, sedang walimah hari ketiga termasuk riya'. "Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan."(Qs. An Nisaa (4) : 4).
Rasulullah SAW bersabda : "Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya" (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih). Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW. telah bersabda, "Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)" (HR. Ahmad). Nabi SAW pernah berjanji : "Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya." (HR. Ashhabus Sunan). Dari Anas, dia berkata : " Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya" (Ditakhrij dari An Nasa'i)..Subhanallah..
Proses pernikahan mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana dan mudah insya Allah akan mendekatkan kepada bersihnya niat, memudahkan proses pernikahan bisa menjernihkan niat. Sedangkan mempersulit proses pernikahan akan mengkotori niat. "Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing." (HR. Bukhari dan Muslim)
Pernikahan haruslah memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang dimaksud Lillah, ialah niat nikah itu harus karena Allah. Proses dan caranya harus Billah, sesuai dengan ketentuan dari Allah.. Termasuk didalamnya dalam pemilihan calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau tidak). Terakhir Ilallah, tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah.
Sehingga dalam penyelenggaraan nikah tidak bermaksiat pada Allah ; misalnya : adanya pemisahan antara tamu lelaki dan wanita, tidak berlebih-lebihan, tidak makan sambil berdiri (adab makanan dimasyarakat biasanya standing party-ini yang harus di hindari, padahal tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang demikian), Pengantin tidak disandingkan, adab mendo'akan pengantin dengan do'a : Barokallahu laka wa baroka 'alaikum wa jama'a baynakuma fii khoir.. (Semoga Allah membarakahi kalian dan melimpahkan barakah kepada kalian), tidak bersalaman dengan lawan jenis, Tidak berhias secara berlebihan ("Dan janganlah bertabarruj (berhias) seperti tabarrujnya jahiliyah yang pertama" - Qs. Al Ahzab (33),
Meraih Pernikahan Ruhani
Jika seseorang sudah dipenuhi dengan kecintaan dan kerinduan pada Allah, maka ia akan berusaha mencari seseorang yang sama dengannya. Secara psikologis, seseorang akan merasa tenang dan tentram jika berdampingan dengan orang yang sama dengannya, baik dalam perasaan, pandangan hidup dan lain sebagainya. Karena itu, berbahagialah seseorang yang dapat merasakan cinta Allah dari pasangan hidupnya, yakni orang yang dalam hatinya Allah hadir secara penuh. Mereka saling mencintai bukan atas nama diri mereka, melainkan atas nama Allah dan untuk Allah.
Betapa indahnya pertemuan dua insan yang saling mencintai dan merindukan Allah. Pernikahan mereka bukanlah semata-mata pertemuan dua insan yang berlainan jenis, melainkan pertemuan dua ruhani yang sedang meniti perjalanan menuju Allah, kekasih yang mereka cintai. Itulah yang dimaksud dengan pernikahan ruhani. KALO KITA BERKUALITAS DI SISI ALLAH, PASTI YANG AKAN DATANG JUGA SEORANG (JODOH UNTUK KITA) YANG BERKUALITAS PULA (Al Izzah 18 / Th. 2)
Penutup
"Hai, orang-orang beriman !! Janganlah kamu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah kepada kamu dan jangan kamu melampaui batas, karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas." (Qs. Al Maidaah (5) : 87).
Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Qs. Alam Nasyrah (94) : 5- 6 ).
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya sayangi dan saya cintai atas nama Allah.. demikanlah proposal ini (secara fitrah) saya tuliskan. Saya sangat berharap Ibunda dan Ayahanda.. memahami keinginan saya. Atas restu dan doa dari Ibunda serta Ayahanda..saya ucapkan "Jazakumullah Khairan katsiira". "Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin aku menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan.. YA ALLAH BERILAH PAHALA DALAM MUSIBAHKU KALI INI DAN GANTIKAN UNTUKKU YANG LEBIH BAIK DARINYA.. Amiin"
==================================== Dedicated to : My inspiration .... yang pernah singgah dan menghuni "hati" ...Astaghfirullah !! Saat langkah ada didunia maya, tak menapak di bumi-Nya..Lalu, kucoba atur gelombang asa..Robbi kudengar panggilanMu tuk meniti jalan RidhoMu.. Kuharap ada penolong dari hambaMu meneguhkan tapak kakiku di jalan-Mu dan menemani panjangnya jalan dakwah yang harus aku titi.. " Saat Cinta dan Rindu tuk gapai Syurga dan Syahid di jalanNya makin membuncah.." ====================================
Maraji / Referensi :
-
Majalah Ishlah, Edisi Awal Tahun 1995.
-
Fiqh Islam, H. Sulaiman Rasyid, 1994, Cet. 27, Bandung, Sinar Baru Algesindo.
-
Fikih Sunnah 6, Sayyid Sabiq, 1980, cet. 15, Bandung, Pt. Al Ma'arif.
-
Kupinang Engkau dengan Hamdalah, Muhammad Faudzil Adhim, 1998, Yogyakarta, Mitra Pustaka.
-
Indahnya Pernikahan Dini, Muhammad Faudzil Adhim, 2002, Cet. 1, Jakarta, Gema Insani Press.
-
Rintangan Pernikahan dan Pemecahannya, Abdullah Nashih Ulwan, 1997, Cet. 1, Jakarta, Studia Press.
-
Perkawinan Masalah Orang muda, Orang Tua dan Negara, Abdullah Nashih Ulwan, 1996, Cet. 5, Jakarta, Gema Insani Press.
-
Kebebasan Wanita, jilid 1, 5, 6, A.H.A. Syuqqah, 1998, Cet.1, Jakarta, Gema Insani Press
-
Sulitnya Berumah Tangga, Muhammad Utsman Al Khasyt, 1999, Cet. 18, Jakarta, Gema Insani Press.
-
Majalah Cerdas Pemuda Islam Al Izzah, Wahai Pemuda, Menikahlah, No. 17/Th. 2 31 Mei 2001, Jakarta, YPDS Al Mukhtar. |
Posted at 09:21 am by nurul_fath
Permalink
|
 |
|
|
 |
|